<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Shofieka's Blog</title>
	<atom:link href="http://shofieka.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://shofieka.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Oct 2008 07:26:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='shofieka.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Shofieka's Blog</title>
		<link>http://shofieka.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://shofieka.wordpress.com/osd.xml" title="Shofieka&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://shofieka.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>puisi</title>
		<link>http://shofieka.wordpress.com/2008/10/22/puisi/</link>
		<comments>http://shofieka.wordpress.com/2008/10/22/puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 07:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shofieka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shofieka.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Puisi-puisi Cinta Chairil yang Menggetarkan Oleh Tjahjono Widarmanto Memperbincangkan kesusastraan Indonesia, mustahil tanpa menyebut sosok Chairil Anwar. Namanya menjadi bagian tak terpisahkan bagi terbentuknya identitas kesusastraan Indonesia, khususnya identitas sastra puisi Indonesia. Sampai sekarang namanya menjadi mitos dan paling banyak diperbincangkan dalam khazanah sastra Indonesia. Ialah yang dianggap meletakkan dasar perpuisian modern Indonesia, yang mengembangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shofieka.wordpress.com&amp;blog=5257679&amp;post=3&amp;subd=shofieka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="font-family:Arial;font-size:medium;">Puisi-puisi Cinta              Chairil yang Menggetarkan<br />
</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;">Oleh<br />
Tjahjono Widarmanto</p>
<p>Memperbincangkan kesusastraan Indonesia, mustahil tanpa menyebut              sosok Chairil Anwar. Namanya menjadi bagian tak terpisahkan bagi              terbentuknya identitas kesusastraan Indonesia, khususnya identitas              sastra puisi Indonesia. Sampai sekarang namanya menjadi mitos dan              paling banyak diperbincangkan dalam khazanah sastra Indonesia.<br />
Ialah yang dianggap meletakkan dasar perpuisian modern Indonesia,              yang mengembangkan estetika Indonesia modern dengan bentuk yang              ekspresif, liar, berani, dan tak beraturan.<br />
Membicarakan puisi-puisi Chairil Anwar, orang akan mempertautkan              dengan vitalitas, ego, dan spirit individualis dalam diri Chairil              yang memang tersirat dalam banyak sajaknya (bahkan cara hidupnya).              Hal itu memang telah menjadi pilihan konsep estetika Chairil,              seperti yang diteriakkannya dalam pidatonya:<br />
…Vitalitas adalah sesuatu yang tak bisa dielakkan dalam mencapai              suatu keindahan. Dalam seni; vitalitas itu Chaotischvoorstadium,              keindahan kosmich eindstadium…<br />
(Pidato Chairil 7 Juli 1943). Karena kredonya itu tak heran              puisi-puisinya meneriakkan reaksioner, heroik, sangat individualis,              bahkan revolusioner. Hal ini tergambar jelas dalam puisi-puisi              ”Persetujuan dengan Bung Karno”, ”1943”, ”Semangat”, ”Siap Sedia”,              dan masih banyak lagi. Bahkan, ia tak segan-segan mengumumkan              dirinya sendiri dengan lantang sebagai ”binatang jalang” dalam              sejaknya yang paling populer, ”Aku”.<br />
Sungguhpun demikian, seliar-liarnya, Chairil tetaplah seorang              seniman yang tak luput dari perasaan romantisme, bahkan sentimentil              saat ia terlibat dengan urusan wanita dan cinta. Kehidupan Chairil              memang banyak diwarnai dengan nama-nama wanita; ada yang memang              dipacarinya, ada yang ditaksirnya tapi tak terbalas sehingga ia              patah hati, ada pula yang sangat mencintai dan dicintainya tapi tak              pernah sampai pada perkawinan.<br />
Wanita-wanita itu dan ”pengalamannya” dengan wanita-wanita itu              menjadi sumber inspirasinya bahkan nama-namanya secara tersurat              hadir dalam puisi-puisinya, seperti nama-nama Karinah Moordjono,              Sumirat, Dien Tamaela, Sri Aryati, Gadis Rasid, Ina Mia, Ida, Sri,              dan Nyonya.<br />
Saat bersentuhan dengan persoalan cinta dan wanita ini, Chairil              Anwar bisa menjelma menjadi sosok yang amat halus dan romantis.              Perasaan cinta digambarkannya dengan aksentuasi lembut dan              bersahaja, seperti pada puisi yang dipersembahkannya pada Gadis              Rasid:</p>
<p>Buat Gadis Rasid</p>
<p>Antara<br />
Daun-daun hijau<br />
Padang lapang dan terang<br />
Anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian<br />
Burung-burung merdu<br />
Hujan segar dan menyembur<br />
………………..</p>
<p>Kita terapit, cintaku<br />
—-mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak—-<br />
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati<br />
Terbang<br />
Mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat<br />
—-the only possible non-stop flight<br />
tidak mendapat</p>
<p>Dalam puisi di atas dengan amat lembut Chairil bertutur perasaan              hatinya yang tercepit cinta. Hampir tidak ada kata-kata yang bombas              dan ekspresif, seolah-olah hanya gumaman cinta yang mendesak di              dada. Pada puisi ”Puncak”, romantisme cinta Chairil memuncak dan              diucapkannya dengan terus-terang:</p>
<p>………..kita berbaring bulat telanjang<br />
sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata sekarang<br />
………..<br />
Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu<br />
Mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di baalik rupa<br />
Kau terlompat dari ranjang, lari ke tingkap yang<br />
Masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana……..</p>
<p>Saat Chairil mengalami patah hati, ia pun berubah menjadi sosok              sendu yang sentimentil. Seperti yang tergambar dalam puisinya ”Senja              di Pelabuhan Kecil” berikut ini:</p>
<p>Senja di Pelabuhan Kecil<br />
(buat Sri Aryati)</p>
<p>Ini kali tiada yang mencari cinta<br />
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita<br />
Tiang serta temali. Kapal,perahu tiada berlaut<br />
Gerimis mempercepat kelam.<br />
Ada juga kelepak elang<br />
Menyinggung muram, desir hari lari berenang<br />
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak<br />
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak<br />
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan<br />
Menyusur semenanjung, masih pengap harap<br />
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan<br />
Dari pantai keempat, sendu penghabisan bisa berdekap</p>
<p>Kemuraman Chairil akibat patah hati amat terasa dalam puisi ini.              Diksi-diksi:<br />
gudang, rumah tua, kapal perahu tiada berlaut. Gerimis mempercepat              kelam, muram, air tidur hilang ombak, aku sendiri, pengap harap,              selamat jalan, sendu penghabisan.<br />
Merupakan komposisi yang sedemikian rupa disusun untuk menggambarkan              suasana hati yang muram dan patah. Segalanya jauh dari kata              bombastis yang meledak-ledak.<br />
Namun, tak seluruhnya Chairil menggambarkan pesona wanita dan cinta              dengan romantisme yang teduh dan halus. Kadang-kadang melompat              kenakalan dan keliarannya dalam melukiskan keberadaan wanita, bahkan              dengan cara yang mengejutkan dan kurang ajar, seperti terdapat pada              penggalan puisinya yang berjudul ”Kepada Kawan” di bawah ini:</p>
<p>…….<br />
Jadi<br />
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,<br />
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan<br />
Peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu<br />
Pilih kuda paling liar, pacu laju<br />
Jangan tambatkan pada siang dan malam</p>
<p>Kenakalan dan keliaran semacam itu juga muncul saat Chairil              menggambarkan perasaan dan hasrat birahi yang menggebu-gebu, yang              diungkapkannya secara terus terang:</p>
<p>Lagu Biasa</p>
<p>Di teras rumah makan kami kini berhadapan<br />
Baru berkenalan. Cuma berpandangan<br />
Sungguhpun samudera jiwa sudah selam berselam<br />
Masih saja berpandangan<br />
………..<br />
Ia mengerling. Ia ketawa<br />
Dan rumput kering terus menyala<br />
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi<br />
Darahku terhenti berlari<br />
Ketika orkes memulai Ave Maria<br />
Kuseret ia ke sana…….</p>
<p>Keterusterangan yang gamblang dalam menggambarkan hasrat seksual              semacam di atas, juga muncul dalam puisi-puisinya yang lain, seperti              pada ”Tuti Artic”:<br />
…../Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa/…ketika              kita bersepeda kuantar kau pulang…/panas darahmu, sungguh lekas kau              jadi dara/.<br />
Di antara puisi-puisi Chairil yang bersinggungan dengan wanita dan              cinta seperti di atas, ada dua buah puisi cinta Chairil yang sangat              menggetarkan hati dan paling terindah yang dipersembahkannya untuk              seorang gadis yang bernama Sumirat. Konon gadis ini adalah gadis              yang paling mencintai dan dicintai. Namun sayang keluarga Sumirat,              yang tinggal di Paron, sebuah desa kecil di Ngawi, tak menghendaki              Chairil jadi menantunya.<br />
Salah satu puisi itu berjudul ”Mirat Muda, Chairil Muda” yang              ditulis Chairil pada tahun kematiannya yang disebut-sebut sebagai              penggambaran seksualitas dalam kedekatannya dengan maut, yang              berarti juga seksualitas sebagai dorongan daya hidup yang terus              menyala sampai maut merenggut. Inilah puisi itu selengkapnya:<br />
Mirat Muda, Chairil Muda</p>
<p>Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,<br />
Menatap lama ke dalam pandangnya<br />
Coba memisah matanya menantang<br />
Yang satu tajam dan jujur yang sebelah<br />
Ketawa diadukannya giginya pada<br />
Mulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakah<br />
Kau selalu mesra dan aku bagimu indah?<br />
Mirat raba urut Chairil, raba dada<br />
Dan tahukah di kini, bisa katakan<br />
Dan tunjukkan dengan pasti di mana<br />
Menghidup jiwa, menghembus nyawa<br />
Liang jiwa-jiwa saling berganti. Dia<br />
Rapatkan<br />
Dirinya pada Chairil makin sehati;<br />
Hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas<br />
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,<br />
Menuntut tinggi tidak setapak berjarak<br />
Dengan mati.</p>
<p>Dalam puisi di atas tampak sekali cinta yang dalam pada diri Chairil              pada Sumirat, gadis yang dikaguminya itu. Dan bagi Chairil, Sumirat              menjadi semangat pendorong cita-citanya untuk terus berkarya;              seperti tertulis pada suratnya untuk HB Jassin pada bulan Maret              1944: ”Orang selalu saja salah sangka, tapi mereka akan menyesal di              hari kemudian, karena aku akan sanggup membuktikan bahwa              karya-karyaku ini bermutu dan berharga tinggi. Jangan kita putus asa              Mirat, aku akan terus berjuang untuk memberi bukti”.<br />
Cinta Chairil dan Mirat memang abadi dalam sajak, tapi mereka tak              pernah berhasil menikah. Chairil juga berhasil membuktikan kepada              Mirat bahwa karya-karya bermutu dan berharga tinggi. Mirat atau              Sumirat yang berpisah karena perang kemerdekaan, akhirnya mendengar              semuanya tentang bagaimana ia beristri, punya anak, dan mati muda,              juga bagaimana namanya menjadi besar, menjadi mitos. Dan, Sumirat,              gadis yang pernah dicintai dan mencintai Chairil habis-habisan itu              bertutur (Intisari; Juni 1971):<br />
…Kini Cril tiada lagi. Cril, penyair yang sepanjang hidupku kukagumi              dan kudambakan, sebagai seorang penyair besar dari zamannya. Dia              benar, Cril membuktikan dirinya orang besar, seperti selalu              dikatakannya kepadaku. Dia meninggalkan seorang istri dan anak              perempuan. Ingin aku bisa menjumpai mereka, bagaimanapun aku pernah              mengenal baik dengan almarhum”.<br />
Puisinya yang lain, yang juga dipersembahkan buat Sumirat sangat              menampakkan romantisme, harapan, dan sanjungan yang luar biasa dan              menggetarkan dari gelombang jiwa seorang Chairil. Puisi ini boleh              dikatakan paling romantis, paling indah dan mewakili estetika yang              lain. Estetika yang romantis, indah, lembut, dan menggetarkan ini              menyajikan warna yang lain di samping warna puisi Chairil yang              meledak-ledak; liar, dan ekspresif; yang melengkapi kedahsyatan              kepenyairan Chairil Anwar. Saya kutipkan puisi itu untuk mengakhiri              tulisan ini:</p>
<p>Sajak Putih<br />
Buat tunanganku Mirat</p>
<p>Bersandar pada tari warna pelangi<br />
Kau depanku bertudung sutra senja<br />
Di hitam matamu kembang mawar dan melati<br />
Harum rambutmu mengalun bergelut senda<br />
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba<br />
Meriak muka air kolam jiwa<br />
Dan dalam dadaku memerdu lagu<br />
Menarik menari seluruh aku<br />
Hidup dari hidupku, pintu terbuka<br />
Selama matamu bagimu menengadah<br />
Selama kau darah mengalir dari luka<br />
Antara kita mati datang tidak membelah……<br />
Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri<br />
Dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!<br />
Kecuplah aku terus, kecuplah<br />
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku….***<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shofieka.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shofieka.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shofieka.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shofieka.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shofieka.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shofieka.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shofieka.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shofieka.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shofieka.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shofieka.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shofieka.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shofieka.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shofieka.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shofieka.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shofieka.wordpress.com&amp;blog=5257679&amp;post=3&amp;subd=shofieka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shofieka.wordpress.com/2008/10/22/puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7143daec8081677b96d7609373ae4fe?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">shofieka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://shofieka.wordpress.com/2008/10/22/hello-world/</link>
		<comments>http://shofieka.wordpress.com/2008/10/22/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 07:06:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shofieka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shofieka.wordpress.com&amp;blog=5257679&amp;post=1&amp;subd=shofieka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shofieka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shofieka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shofieka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shofieka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shofieka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shofieka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shofieka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shofieka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shofieka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shofieka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shofieka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shofieka.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shofieka.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shofieka.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shofieka.wordpress.com&amp;blog=5257679&amp;post=1&amp;subd=shofieka&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shofieka.wordpress.com/2008/10/22/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7143daec8081677b96d7609373ae4fe?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">shofieka</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
